Rabu, 22 Januari 2014

[Review] Misteri Soliter by Jostein Gaarder

Misteri Soliter by Jostein Gaarder

Judul: Misteri Soliter
Penulis: Jostein Gaarder
Alihbahasa: Anton Kurnia, Septina Ferniati
Penerbit: Jalasutra
Cetakan: 1, Juli 2002
Tebal: 443 halaman
Pinjem punya kakak ipar

Hans Thomas--seorang bocah lelaki berumur 12 tahun yang cerdas dan penuh rasa ingin tahu--melakukan perjalanan bersama ayahnya ke Yunani untuk mencari ibunya. Ayahnya pemabuk tapi jenius; dia memancing Hans Thomas dengan pertanyaan-pertanyaan kritis dan berkisah tentang hal-hal aneh.

Dalam perjalanan itu serangkaian kejadian luar biasa terjadi: seorang lelaki kerdil memberi Hans Thomas sebuah kaca pembesar; seorang tukang roti tua memberinya kue dan buku mungil yang berkisah tentang seorang pelaut yang terdampar di pulau terpencil. Di pulau antah-berantah berpenghuni seperangkat kartu remi bernyawa itu berkelindan teka-teki permainan soliter yang menjalin sejarah panjang sebuah keluarga selama tiga generasi; sebuah 'permainan' yang membuktikan adanya hubungan kausalitas sekaligus menohok kita dengan pertanyaan mendasar tentang causa prima: Apakah Tuhan ada?

Jostein Gaarder dalam misteri soliter ini kembali mempertunjukkan kejenialannya. Menurut sejumlah komentar ia mencapai tingkat puncak dengan berhasil memadukan fantasi, mitologi, filsafat, juga pendidikan. Buku ini memang sangat nikmat dibaca, bisa disarankan agar dibaca siapa pun.
Awalnya rada ragu mau baca buku Jostein Gaarder lagi, karena saya ga cocok sama buku Dunia Sophie :( entah kenapa, saya ga ngerti sama jalan cerita di Dunia Sophie. Tapi beda dengan buku ini.  Saya lebih mengerti jalan cerita buku ini ketimbang buku sebelumnya.

Jadi, buku ini bercerita tentang seorang anak bernama Hans Thomas yang sedang berkendara bersama Ayahnya untuk mencari Bundanya yang hilang. Di perjalanan, banyak terjadi hal menakjubkan. Dikasih kaca pembesar ajaib oleh kurcaci sampai buku mungil oleh pembuat roti. Di sinilah inti ceritanya. Cerita fantasi yang mungkin ga semua orang percaya. Cerita ajaib yang hanya dapat dimengerti dan dipercaya oleh orang yang mempunyai imajinasi tinggi.

Membaca buku ini seperti sedang menonton film Inception, ada mimpi di dalam mimpi. Bedanya, di buku ini adalah ada cerita dalam cerita yang diceritakan lagi orang lain. Mungkin menjadi story-ception *ngasal :p Seru, sih jadinya.

Saya suka buku ini karena:
1. Ceritanya bergenre fantasi. Love it! Saya memang tukang khayal. Jadi, saya bisa dengan mudah membayangkan apa yang terjadi di pulau. Makhluk berkaki 6, lebah-lebah yang ternyata sebesar burung gereja, ikan mas warna-warni yang menyilaukan mata, kupu-kupu besar yang berterbangan. Bahkan saya hampir bisa menyicipi Soda Bianglala *lebay, sih* karena deskripsinya yang lumayan detil.
2. Seneng juga sama perjalanan antara Hans Thomas dan Ayahnya. Apalagi saat Ayah berniat untuk berhenti minum-minum.
3. Selain ada cerita di buku mungil, Ayah Hans Thomas juga bercerita tentang Socrates yang menjadi Joker di masanya, cerita Oedipus yang ternyata membunuh ayah kandung dan menikahi ibu kandungnya *hoek* seru karena jadi tau juga cerita-cerita itu.
4. Over all, saya memang suka ceritanya.

Saya kurang suka buku ini karena:
1. Harus konsentrasi bacanya. Seperti yang sudah saya bilang, ini adalah story-ception, jadi emang harus bener-bener konsen. Apalagi dalam cetakan bukunya ga dikasih tanda (misalnya dengan font yang berbeda atau di-italic) apakah ini Hans Thomas yang jadi naratornya atau Ludwig (pencerita di buku mungil) yang sedang bercerita. Di buku mungil itu bahkan Ludwig bercerita kalau dia mendengarkan cerita dari Albert, nah makin bingung, deh. Tapi, kalau bacanya bener-bener konsen, gampang dibedainnya ko :D

Kesimpulan:
Cerita ini keren! Kalau Anda suka dengan hal-hal yang berbau filsafat dan fantasi, buku ini bisa jadi pilihan bacaan.

Stars: 4 of 5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar